LAPORAN TETAP KIMIA DASAR II

Standar

ACARA I
PEMBUATAN LARUTAN
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum:
Untuk mempelajari dan melatih cara-cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu.
Hari, Tanggal Praktikum:
Kamis, 3 Mei 2012
Tempat Praktikum:
Laboratorium Kima Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Lalutan didefinisikan sebagai zat homogen yang merupakan campuran dua komponen atau lebih, yang dapat berupa gas, cairan atau lainnya, kerena semua gas bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran gas adalah homogen dan merupakan larutan. Dua pengertian yang penting dalam larutan adalah solute dan solvent pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam jumlah yang lebih besar maka disebut solvent dan untuk berbeda dalam jumlah yang lebih kecil disebut solut (snyder, 2005:229).
Larutan yang saling melarutkan adalah ampuran dua larutan polar (misal, air dan alkohol) atau dua larutan non polar (misal, karbon tetraclorin dan benzena) yang membentuk larutan sati fase yang homogen. Larutan yang tidak melarutkan adlah campuran dari zat cair polar dan zat cair non polar yang membentuk dua fase. Larutan ideal adalah larutan yang mengikuti hukum raul (p=p0AXA+P0BXB). Dalam larutan ini, solte dan soulvent atau solute gaya antar molekul solut. Larutan tidak ideal yaitu larutan yang tidak mengikuti hukum raul (stephen,2002:52).
Berdasarkan keadaan fase zat setelah bercampur, maka campuran ada yang homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang membuat satu fase, yaitu yang mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian dengan bagian yang lain didekatnya. Campuran homogen lebih umum disebut larutan, kebanyakan larutan mempunyai salah satu komponen yang besar jumlahnya. Komponen yang besar tersebut disebut solvent (pelarut) dan yang lain disebut zat terlarut (ahmad, 2001:352).
Suatu larutan dikatakan ideal jika potensial kimia tiap komponennya adalah fungsi linear dari logaritma fraksi molnya. Semua campuran dinamakan idal. Dan juga jenis khusus dari campuran gas dinamakan sempurna. Menunjukan keterangan ketergantungan yang sama pada potensial kimia pada susunan. Suatu larutan dapat mendekati perilaku ideal dalam satu daerah dan tidak dalam aerah lain, ada alasan untuk mengharapkan bahwa larutan lama kelamaan akan mendekati pada keidealan karena semuanya akan menjadi encer (Anonim, 2012).
ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-Alat Praktikum:
Batang pengaduk
Gelas arloji
Gelas kimia 100 mL
Gelas kimia 250 mL
Labu ukur 50 mL
Pipet tetes
Sendok
Timbangan analitik

Bahan-Bahan Praktikum:
Aquades
Kertas label
Larutan NaCl 0,5%
Larutan NaCl 1%
Larutan NaOH 0,5%
Larutan NaOH 0,75%
Tissue

PROSEDUR PERCOBAAN
Dihitung gram zat yang diperlukan untuk membuat larutan dengan konsentrasi yang diinginkan.
Ditimbang zat sesuai dengan gram yang dihitung.
Zat tersebut dilarutkan dalam gelas kimia.
Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur dan ditambahkan aquades hingga volumenya 50 mL.
labu ukur dikocok agar larutan benar-benar tercampur.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi
NaCl(s) + H2O(l) → NaCl(aq) + H2O(l)
NaOH(s) + H2O(l) → NaOH(aq) + H2O(l)

Perhitungan
Massa NaCl
Massa NaCl dalam larutan NaCl 0,5%
Diketahui : %NaCl = 0,5%
Vpelarut = 50 mL
Massa NaCl dapat dihitung dengan :
%NaCl=(massa NaCl)/Vpelarut x 100%
0,5%= (massa NaCl)/(50 mL) x 100%
Massa NaCl= (0,5% x 50mL)/(100%)
= 0,25 gram

Massa NaCl dalam larutan NaCl 1%
Diketahui : %NaCl = 1%
Vpelarut = 50 mL
Massa NaCl dapat dihitung dengan :
%NaCl=(massa NaCl)/Vpelarut x 100%
1% = (massa NaCl)/(50 mL) x 100%
Massa NaCl = (1% x 50mL)/(100%)
= 0,5 gram

Massa NaOH
Massa NaOH dalam larutan NaOH 0,75 M
Diketahui : M NaOH = 0,75 M
Mr NaOH = 40
Vpelarut = 50 mL
Massa NaOH dapat dihitung dengan :
M NaOH= (mol NaOH)/Vpelarut
M NaOH= (gram NaOH)/(Mr NaOH) x 1000/Vpelarut
0,75 M= (gram NaOH)/40 x 1000/50
Massa NaOH= 0,75x40x50/1000
=1,5 gram
Massa NaOH dalam larutan NaOH 0,5 M
Diketahui : M NaOH = 0,5 M
Mr NaOH = 40
Vpelarut = 50 mL
Massa NaOH dapat dihitung dengan :
M NaOH= (mol NaOH)/Vpelarut
M NaOH= (gram NaOH)/(Mr NaOH) x 1000/Vpelarut
0,75 M= (gram NaOH)/40 x 1000/50
Massa NaOH= 0,5x40x50/1000
=1 gram

Tabel
Konsentrasi Volume larutan (mL) Massa NaCl (gram) Massa NaOH (gram)
NaCl(%) NaOH(M)
0,5 0,75 50 0,25 1,5
1 0,5 50 0,5 1

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini untuk mempelajari dan melatih cara-cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu. Larutan yang akan dibuat yaitu larutan NaOH 0,5 M, larutan NaOH 0,75 M, larutan NaCl 0,5 % dan NaCl 1 %.
Konsentrasi larutan didevinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Pada umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik, misalnya suan berat atau satuan volume. Juga dalam satuan kimia misalnya : mol, massa rumus equivalen. Cara menyatakan konsentrasib dalam satuan fisik yaitu, porsen berat (% w/w), persen volume (v/v), pesan berat volume (% w/v) dan lain-lain.cara menyatakan konsentrasi dalam satuan kimia yaitu; kemolran (M), kenormalan (w), kemolalan (m), kevormalan (v) fraksi mol.
Dengan mengetahui mlaritasnya dan porsen berat-volume (% w/v). Hal pertama yang harus kita lakukan yaitu menghitung massa zat yang akan dilarutkan. Dari hasil perhitungan massa NaOH untuk NaOH 0,5 M dan NaOH 0,75 M berturut-turut diperoleh 1 gram, 1,5 gram, sedangkan massa NaCl untuk % massa 0,5 % dan 1 % berturut-turut diperoleh 0,25 gran dan 0,5 gram.
Setelah mengetahui massa zat yang akan dilarutkan maka dilakukan penimbangan. Kemudian setelah zat ditimbang dimasukkan kedalam gelas kimia dan dilarutkan dengan aquades. Diatur hingga za5t padatnya benar-benar terlarut, kemudian larutan tersebut dipindahkan ke lbu takar, setelah itu ditambahkan aquades hingga volumenya mencapai 50 ml. Labu takar yang digunakan harus sesuai dengan volume larutan yang akan dibuat, hal tersebut dilakukan agar hasil yang diperoleh akurat dan sesuai dengan harapan.
Larutan yang sudah jadi tersebut dikatakan campuran homogen karena hanya membentuk satu fase, yaitu mempunyai sifat dan komposisi antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, terlihat bahwa suatu konsentrasi berbanding lurus dengan kuantitas zat tevlarut, selain itu, terlihat bahwa semakin besar % massa maka akan semakin besar pula massa zat tersebut, jika volume yang digunakan konstan.

KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan praktikum yang dilakukan antara lain:
Konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan kuantitas zat terlarut.
Larutan merupakan campuran homogen antara dua zat yaitu zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent).
Komposisi larutan dapat dinyatakan dengan persentase jumlah zat terlarut dalam sejumlah volume pelarut serta dengan perbandingan mol solute dalam volume solvent.
Dalam menentukan persentase komposisi larutan dapat digunakan rumus :
%m/v=(gram solute)/(volume solvent) x100%

Sedangkan konsentrasi dalam satuan molar dapat ditentukan dengan rumus :
M= mol/(volume pelarut)
= (gram solute)/(Mr solute) x 1000/(volume solvent (mL))

ACARA II
REAKSI ASAM BASA I

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Pemakaian ekstak tumbuh-tumbuhan sebagai indicator penentuan pH larutan.
Penentuan pH denagn indicator dan berbagai larutan buffer.
Waktu Praktikum
Kamis, 10 Mei 2012
Tempat Praktikum
Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Difinisi yang pertama dan yang paling sederhana untuk asam dan basa adalah difinisi Archenius. Ia mengatakan bahwa asam adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan H+, sedangkan basa adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan OH-. Menurut Bronsted lowry, asam adalah zat yang dapat memberikan proton sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton,. Menurut Lewis asam adalah zat yang dapat menerima elktron sedangkan basa adalah zat yang dapat memberikan elektron (Bresnick,2002;60).
Kotak bjjerum dibagi menjadi dua bagian menurut diagonal. Sel yang berisi larutan yang akan ditentukan pH-nya (volumenya 1/5 dari volume kotak) diletakkan diatas kotak. Salah satu bagian kotak diisi dengan larutan basa dan bagian yang lainnya diisi dengan larutan asam. Kemudian bagian kotak dibubuhi sejumlah indicator sel diisi larutan yang akan diuji. Kemudian sel diletakkan diatas kotak, kemudian digeser sepanjang bagian atas kotak warna yang terlihat dari depan kotak sama dengan warna larutan dalam sel. Dari dalam bagian kotak yang berisi asam, indicator berada dalam bentuk HIn, sedangkan dalam bagian yang berisi basa indicator berada dalam bentuk In (Ahmad, 2001 : 60).
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titter atau titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya, kadar larutan basa ditentukan dengan menggunakan larutan asam. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis reaksi) keadaan ini disebut dengan titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant (Timbarlake, 2004: 221).
Asam dan basa yang saling berkaitan dalam pertukaran protein disebut pasangan asam-basa konjugasi. Tidak ada zat yang bertindak sebagai asam, jika tidak terdapat basa yang dapat menerima proton. Zat yang dapat bertindak sebagai asam maupun basa disebut zat amtipcotik (Anonim, 2012).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat Praktikum
Corong
Gelas Kimia 250 ml
Gelas Ukur 50 ml
Gelas Ukur 100 ml
Kotak bjjerum
Mortar+penggerus
Pipet volume 5 ml
Pipet volume 25 ml
Pipet tetes
penggaris
Plat tetes
Rubber bulb
Spatula
Tabung reaksi
Bahan Praktikum
Aquades
Buffer dengan berbagai perbandingan
Etanol
Indicator brom kresol hijau
Kembang sepatu
Kertas label
Kertas saring
Larutan asam asetat o,1 M
Larutan asam borat 2 %
Larutan HCl 0,1 M
Larutan Na2CO3
Larutan NaHCO3
Larutan NaCl
Larutan NaOH 0,1 M
Larutan NaOH 0,01 M
pH stick

PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan ekstrak tumbuh- tumbuhaan sebagain indicator
Bagian bunga dikumpulkan dalam satu jenis (mahkota bunga).
Dipotong kecil-kecil, kemudian dimasukkan kedalam mortar lalu ditumbuk hingga lumat.
Ditambahkan Etanol 5 mL.
Diaduk sedemikian rupa, sehingga zat-zat warnanya tereaksi sebanyak mungkin., kemudian disaring dalam tabung reaksi dengan kertas saring.
2. Penentuan trayek perubahan warna
Disiapkan sederetan larutan baku sebagai berikut:
Laritan CH3COOH 0,1 M pH=3
Larutan HCl 0,1 M pH =1
Larutan H3BO3 2% pH =5 (kira- kira)
Larutan Na2CO3 5% pH =10,6
Larutan NaCl 5% pH=7
Larutan NaHCO3 5% pH=8,3
Larutan NaOH 0,01 M pH=12
Diteteskan diatas plat tetes, masing- masing larutan baku 2 tetes dan mempunyai pH tertentu
Pada masing- masing larutan baku ditambahkan satu tetes cairan indikator atau ekstrak tumbuh- tumbuhan
Dicatat nilai pH yang memberikan perubahan warna dari tetesan cairan yang diberikan dengan yang diperiksa dengan pH stick

3. Pemakaian ekstrak tumbuh- tumbuhan sebagai indicator
Diteteskan 25 tetes larutan HCl 0,1 M kedalam tabung reaksi.
Ditambahkan 2 tetes ekstrak tumbuh- tumbuhan ke dalam larutan tersebut.
Dimasukkan NaOH 0,1 M kedalamnya tetes demi tetes sampai warna larutan berubah.
4.Penentuan pH dengan indicator
Diukur panjang kotak bjerrum
Masing- masimg dari kotak bjerrum diisi dengan larutan NaOH 0,1 M (basa), dan Hcl 0,1 M (asam) masing- masing 50 ml
Pada larutan asam dan basa tadi ditambahkan indikator brom kresol hijau (pada larutan NaOH dan HCl masing- masing 5 tetes).
Kedalam sel percobaan dimasukkan 20 ml larutan buffer seoerti tertulis pada tabel 5 kemudian ditambahkan 5 tetes larutan indikator.
Warna larutan dibanbingkan dalam sel percobaan dengan warna larutan dalam kotak bjerrumdengan cara digeser
Ditandai tempat bjerrum dimana warna larutan dalam kotak bjerrum mempunyai warna sama dalam sel percobaan
Diukur jarak dari tepi kotak ketempat sel
Dihitung pH dari larutan dalam sel dengan pertolongan rumus yang telah diberikan
Cara diatas dilakukan berulang- ulang dengan perbandingan larutan yang berbeda.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).
ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi

HCl(aq) + NaOH(aq)  NaCl(aq) + H2O(l)

Tabel

Larutan Nilai pH pH pengukuran Warna
0,1 M HCl 1 1 Orange kemerahan
0,1 M CH3COOH 5 3 Merah muda
2 % Asam bort Kira-kira 5 3 Ungu tua
5 % larutan NaCl 7 7 Ungu muda
5 % larutan NaHCO3 8,3 11 Hijau tua pekat
5 % Na2CO3 10,6 12 Hijau keabu-abuan
0,01 M NaOH 12 11 Hijau tua

ml ion Asetat 0,1 N ml asam Asetat 0,1 N Ph VA VB
20 80 4,05 3 17
30 70 4,32 6 14
40 60 4,50 9 11
50 50 4,61 12 8
60 40 4,82 14 6
70 30 5,00 15 5
80 20 5,25 16 4

Perhitungan
Perhitungan Nilai Ka
Diketahui: Ka= 1,8×10-5
pKa= 5-log 1,8
= 5-0,25
=4,75
Penentuan pH dengan berbagai larutan buffer
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (20:80)
Diketehui: a=3
b=17
pH=4,05
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log3/17
= 4,75+ log 0,18
= 4,75-0,74
= 4,01
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 4,05-4,01 X 100 %
4,05
= 0,99 %
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (30:70)
Diketehui: a= 6
b= 14
pH= 4,32
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log6/14
= 4,75+ log 0,43
= 4,75-0,37
= 4,38
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 4,32-4,38 X 100 %
4,32
= 1,39 %
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (40:60)
Diketehui: a= 9
b= 11
pH= 4,50
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log9/11
= 4,75+ log 0,82
= 4,75-0,086
= 4,66
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 4,50-4,66 X 100 %
4,50
= 3,56%
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (50:50)
Diketehui: a= 12
b= 8
pH= 4,61
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log12/8
= 4,75+ log 1,5
= 4,75+0,17
= 4,92
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 4,61-4,92 X 100 %
4,61
= 6,73 %
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (60:40)
Diketehui: a= 14
b= 6
pH= 4,82
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log14/6
= 4,75+ log 2,3
= 4,75+0.36
= 5,11
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 4,82-5,11 X 100 %
4,61
= 6,29 %
Perbandingan ion asetat dan asam asetat (70:30)
Diketehui: a= 15
b= 5
pH= 5
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log15/5
= 4,75+ log 3
= 4,75+0,48
= 5,23
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 5-5,23 X 100 %
5
= 4,6 %

Perbandingan ion asetat dan asam asetat (80:20)
Diketehui: a= 16
b= 4
pH= 5,25
Penyelesaian
pH= pKa+log a/b
= 4,75+ log16/4
= 4,75+ log 4
= 4,75+0,60
= 5,35
% error = pH sebenarnya-pH hasil perhitungan X 100 %
pH sebenarnya

= 5,25-5,35 X 100 %
5,25
= 1,91 %
PEMBAHASAN
Pada umumnya indicator asam basa adalah senyawa organic dengan massa molekul besar. Dalam air atau pelarut lain dapat bersifat asam atau basa. Untuk menetukan larutan tersebut asam atau basa dapat diuji melalui pengukuran pH, dimana jika pH yang didapat melalui pengukuran tersebut kurang dari 7 maka larutan tersebut bersifat asam, sebaliknya, jika pH yang didapat lebih dari 7 maka larutan tersebut bersifat basa.
Pada percobaan kali ini dilakukan empat kali percobaan yang pertama yaitu pembuatan indicator asam basa dengan menggunakan mahkota bunga kembang sepatu, digunakan bunga tersebut karena bunganya mudah didapat, warnanya mencolok, terdapat pigmen antosianin dan mampu memberikan perubahan warna baik pada senyawa asam maupun basa. Ekstark bunga yang warnanya merah dengan etanol sehingga mengalami perubahan warna menjadi merah keunguan. Perubahan warna yang terjadi disebabkan karena didalam bunga (mahkota) tersebut terdapat zat yang berfungsi sebagai indicator asam basa dan juga etanol yang berfungsi untuk mengeluarkan ekstrak yang terdapat didalam bunga dan akan menjadi larutan indicator.
Pada penentuan skala pH digunakan 7 larutan yang dipakai sebagai deret baku skala pH, yaitu HCl 0,1 M, CH3COOH 0,1 M, 2 % asam borat, 5% larutan NaCl, 5 % larutan NaHCO3, 5 % Na2CO3 dan NaOH 0,01 . berdasarkan hasil pengamatan, larutan HCl 0,1 M yang semula warnanya bening berubah menjadi orange kemerahan, setelah diukur pH nya menggunakan indicator universal didapat pH=1 yaitu sesuai dengan pH yang sebenarnya, begitu juga dengan larutan CH3COOH 0,1 M yang warnanya berubah menjadi merah muda, didapat pH hasil pengukurannya 3, sesuai dengan pH sebenarnya. Pada larutan asam borat 2 % warnanya berubah menjadi ungu tua dengan pH hasil pengukuran=3 yang smestinya pH sebesar 5, begitu juga dengan larutan NaCl 5% larutan NaCl 5% dan larutan NaHCO3 5 % yang earnanya berubah menjadi ungu muda dan hijau pekat. Hasil pengukuran NaCl 5% yaitu 7, sesuai dengan pH yang sebenarnya, dan pH pengukuran NaHCO3, 5 % sebesar 11 yang seharusnya memiliki pH sebesar 8,3 pada larutan Na2CO3 5 % warnanya berubah menjadi hijau keabu-abuan dengan pH hasil pengukurannya sebesar 12 yang seharusnya memiliki pH sebesar 10,6 sedangkan untuk larutan NaOH 0,01 warnanya menjadi hujau tua dan didapat pH pengukuran 11, yang seharusnya pH nya adalah 12. Adanya perbedaan besar nilai pH yang didapat dengan pH sebenarnya. Hal itu dikarenakan kurangnya tingkat ketelitian praktikan dalam mengamati atau melakukan pencocokan warna dengan menggunakan kertas laksmus.
Pada percobaan selanjutnya 25 tetes larutan HCl 0,1 M dicampurkan 2 tetes ekstrak mahkota kembang sepatu, warna larutan berubah menjadi jingga. Ini menunjukkan bahwa larutan HCl bersifat asam. Kemudian setelah ditetesi 35 tetes larutan NaOH 0,1 M warna larutan berubah menjadi ungu muda bening (mendekati bening sempurna). Perubahan warna tersebut menunjukkan bahwa larutan HCl telah didenetralisasi oleh larutan NaOH yang bersifat basa sehingga larutan berubah menjadi bening dan bersifat netral.
Percobaan yang terakhir yaitu penentuan pH dengan indicator. Pengukuran pH dengan menggunakan metode kotak bjjerum dan sel percobaan. Masing-masing bagian dari kotak bjjerum diisi dengan larutan NaOH 0,1 M dan HCl 0,1 M, masing masing kemudian ditambahkan indicator bromkresol hijau. bromkresol hijau daerah pH (interval warna) Sebesar 3,8 sampai 5,4. bromkresol hijau berwarna kuning pada larutan yang bersifat asam dan berwarna biru pada larutan yang bersifat basa. Setelah penambahan indicator bromkresol hijau larutan NaOH berubah menjadi warna biru, dan ini menunjukkan NaOH bersifat basa sedangkan larutan HCl warnanya menjadi kuning dan menunjukkan larutan bersifat asam. Sel percobaan diletakkan diatas kotak bjjerum yang kemudian dibandingkan warnnanya, setelah mengetahui njarak, atau nilai a dan b dapat dihitung pH dengan menggunakan persamaan
pH= pKa+log a/b.

KESIMPULAN
Ekstrak kembang sepatu (mahkota) dapat dijadikan sebagai indicator asam basa karena dapat mengubah warna larutan baku yang telah diketahui pH-nya.
Jenis larutan dan indicator dapat mempengaruhi besar pH dan perubahan warna.
Untuk menentukan nilain pH suatu larutan dengan system bjjerum dapat ditentukan dengan persamaan
pH= pKa+log a/b
ACARA III
REAKSI ASAM BASA II

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Untuk menentukan pH larutan dengan menggunakan pH meter.
Hari, Tanggal Praktikum
Kamis, 3 Mei 2012
Tempat Praktikum
Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Difinisi yang pertama dan yang paling sederhana untuk asam dan basa adalah difinisi Archenius. Ia mengatakan bahwa asam adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan H+, sedangkan basa adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan OH-. Menurut Bronsted lowry, asam adalah zat yang dapat memberikan proton sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton,. Menurut Lewis asam adalah zat yang dapat menerima elktron sedangkan basa adalah zat yang dapat memberikan elektron (Bresnick,2002;60).
pH meter adalah suatu alat yang dapat menampilkan pH dengan membaca skala dengan skala dengan jarum atau penampilan secara digital. Alat ini mengukur beda potensial ketika arus listrik bergerak antara elektroda yang tercelup kedalam larutan. pH meter yang mengukur pH hingga hampir 0,01 pH unit (Hajadi, 2000:232).
Sifat asam basa dari suatu larutan juga dapat ditunjukkanm dengan mengukur pH nya. pH adalah suatu parameter yang digunakan untuk menyalakan tingkat keasaman suatu larutan. Larutan asam mempunyai pH lebih kecil dari 7. Sedangkan larutan basa memiliki pH lebih besar dari 7. Larutan netral yakni larutan yang pH nya sama dengan 7. pH larutan dapat ditentukan dengan menggunakan indicator pH (indicator universal) atau dengan pH meter (Baroreh, 2004:369).
Reaksi asam basa adalah reaksi yang mendonorkan proton dari sebuah molekul asam ke molekul basa. Disini, asam berperan sebagai donor proton dan basa berperan sebagai aseptor proton. Hasil dari transfer proton ini adalah asam konjugasi dan basa jonjugasi. Reaksi kesetimbangan (bolak-balik) juga ada, dank arena itu/basa konjugasinya selalu dalam kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan ini ditandai denagn adanya konstanta disosiasi asam basa(Ka dan Kb) dari setiap substansinya (Gloria, 2004:412).

ALAT DAN BAHAN
Alat
Gelas kimia 100 ml
Gelas kimia 250 ml
pH meter analitik

Bahan
pH stick
Aquades
Larutan buffer 7 dan 9,2
Larutan NaOH 0,5 M
Larutan NaOH 0,75 M
Larutan NaCl 0,5 %
Larutan NaCl 1 %

PROSEDUR PERCOBAAN
Pengukuran menggunakan pH meter
pH meter dinyalakan.
Kemudian disediakan aquades/H2O.
Fungsi ACTIVON di-set pada pengukuran pH, tombol kalibrasi diputar.
Elektroda dimasukkan ke larutan buffer sebagai proses kalibrasi. Larutan buffer yang digunakan dengan pH 7 dan 9,2. Tombol kalibrasi diputar hingga mencapai pH yang ditentukan.
Elektroda dibilas dengan aquades.
Setelah proses kalibrasi selesai, elektroda dimasukkan ke dalam larutan NaOH 0,5 M, pH larutan ditampilkan pada monitor beberapa saat kemudian.
Langkah 5-6 diulangi untuk pengukuran pH larutan yang lain.
Pengukuran menggunakan pH stick
Larutan uji disediakan (NaOH 0,5 M; NaOH 0,75 M; NaCl 0,5 % dan NaCl 1 %).
pH stick dimasukkan ke dalam larutan uji.
Warna yang dihasilkan kemudian dicocokkan dengan indikator pH.
Nilai pH ditentukan dan dicatat pada laporan sementara.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Gambar pH meter analitik

Tampak depan

Tampak belakang
Penjelasan:
TEMP : untuk mengatur/ menentukan suhu.
CALIB : untuk mengkalibrasi buffer 7.
SLOPE : untuk mengkalibrasi buffer lain.
OFF : untuk mematikan pH meter.
pH : untuk mengatur pengukuran pH.
mV : untuk mengatur tegangan.
LCD : untuk menampilkan hasil pengukuran.
Elektroda : penghubung alat dengan larutan.
Kabel cok : penghubung alat dengan listrik.

Perhitungan pH larutan
NaOH 0,75 M
NaOH(aq)  Na+(aq) + OH-(aq)
0,75 M 0,75 M

[OH-] = 0,75 M
pOH = – log [OH-]
= – log 0,75
= 2 – log 75
pH = 14 – (2 – log 75)
= 12 + log 75
= 12 + 1,875
= 13,875
NaOH 0,5 M
NaOH(aq)  Na+(aq) + OH-(aq)
0,5 M 0,5 M

[OH-] = 0,5 M
pOH = – log [OH-]
= – log 0,5
= 1 – log 5
pH = 14 – (1 – log 5)
= 13 + log 5
= 13 + 0,69
= 13,69
pH NaCl = 7

PEMBAHASAN
Pada praktikum jkali ini yaitu tentang reaksi asam basa II yang bertujuan untuk mengetahui cara kerja pH meter dan untuk menentukan pH suatu larutan dengan menggunakan pH meter. pH meter merupakan seperangkat alat elktro kimia yang digunakan untuk mengukur pH atau derajat keasaman suatu larutan secara sederhana, singkat, dan hasil pengukurannya akurat. Prinsip kerja pH meter yaitu dengan mengukur beda potensial yang terjadi antar elktroda. Dari prinsip itu pH meter juga dapat si set up untuk mengukur beda potensial listrik (sebagai voltmeter).
pH meter memiliki jenis beranekaragam , pada praktikum kali ini digunakan pH meter analitik. Sebelum mengukur pH suatu larutan, terlebih dahulu pH meter harus dikalibrasi, hal ini dilakukan agar pH meter menjadi standar sehingga tidak dipengaruhi oleh larutan sebelumnya. Selain itu elektroda juga harus dinetralkan denagn cara dibilas dengan aquades, hal ini juga bertujuan agar pH meter tidak terpengaruh oleh larutan pada pengukuran sebelumnya.
Pada pengukuran pH dari 4 larutan diperoleh nilai pH pada larutan NaCl 1 %=7, pada larutan NaCl 0,5%=7 sedangkan pada pengukuran larutan larutan NaOH 0,5 M=13,7 dan pH pada larutan NaOH 0,75 M=13,87. Hasil tersebut diperoleh denagn pengukuran dengan menggunakan pH meter analitik. Pada NaCl didapat pH=7, itu dikarenakan lapa larutan NaCl bersifat netrala.
pH meter analitik ini suhu pengukuran dapat ditentukan secara manual, kalibrasinya menggunakan larutan buffer basa (pH=9,2) dan larutan buffer netral (pH=7) dan juga waktu pengukuran yang relative cepat.

KESIMPULAN
Prinsip kerja pH meter adalah denagn mengukur beda potensial yang terjadi antara dua elektroda.
Pada pengukuran pH dari 4 larutan diperoleh nilai pH pada larutan NaCl 1 %=7, larutan NaCl 0,5%=7 , larutan NaOH 0,5 M=13,7 dan pH pada larutan NaOH 0,75 M=13,87.

ACARA IV
ANALISIS KUANTITATIF: ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku asam oksalat.
Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH.
Hari, Tanggal Praktikum
Kamis, 22 Maret 2012
Tempat Praktikum
Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dapat digunakan pada cara titrasi. Sejumlah volume tertentu asam yang dapat diketahui normalitas dapat dititrasi dengan larutan standar basa atau standar asam. Pada titik aquivalen maka sejumlah gram equivalen asam sama dengan jumlah equivalen basa atau disebut equivalen. Untuk mengetahui titik equivalen ini digunakan indikator. Pada titrasi asam lemah dengan basa kuat indikator yang baik digunakan adalh indikator venolftalein, karena jika digunakan indikator yang lain metil orange, maka baru ditambahkan 2 ml sudah terjadi perubahan warna, hingga terjadi kesalahan yang sangat besar (http://www.Scribd.com//doc/102246435/asidimetri).

Jika asam atau basa kuat bereaksi atau satu sama lain dengan basa lemah atau basa lemah, pada dasarnya terjadi reaksi kuantitatif ireverrsibel. Apabila kita mentitrasi asam atau basa kuat (kuat/lemah) yang tidak diketahui tetap volumenya, dapat diketahui dan dapat memakai persamaan bersifat untuk menghitung konsentrasi pada zat yang tidak diketahui dengan rumus: N1.V1=N2.V2. Normalitas (N) berhubungan dengan banyak equivalen asam (H+) dan OH-/liter larutan. Kita dapat molaritas, menjadi normalitas menghitung banyaknya mol H+ dan CH- yang dihasilkan untuk asam atau basa yang terjadi disosiasi, dimana di dapat tiik equivalen, yaitu titik pada titrasi (Syukri, 2000:427).
Reaksi netralisis dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Caranaya dengan menambahkan setetes demi tetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H+ denag mol OH+ pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik equivalen. Cara seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi tepat dengan larutan lain. Analisis ini dapat juga disebut analisis volumetri, karena y6ang diukur adalah volume larutan basa yang dipakaindengan volume tertentu larutan asam(stephen, 2001:69).
Misalnya kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya, kita bisa menentukan knsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yaitu titrasi, dimana kita menetralisir suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya, pada titrasi pertama-tama kita menetapkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan kedalam suatu flesk dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti fenoftalein kedalam larutan asam. Dalam larutan asam fenolftalein tidak berwarna, kemudian buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asma pada flesk kita dapat mengetahui bahwa netralisasi diketahui atau berlangsung fenolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda ini disebut dengan titik akhir titrasi(timbarlake,2004:354).
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dengan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis. Prosedur analisis yang melibatkan titrasi dengan larutan. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui disebut analisis volumetrik. Dalam analisis larutan asam dan basa titrasi melibatkan pengukuran yang seksama volume-volume dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (http://tinz08.wordpress.com).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-Alat Praktikum
Buret 50 ml
Corong kaca 60 mm
Erlenmeyer 250 ml
Gelas kimia 250 ml
Gelas ukur 50 ml
Klem
Pipet tetes
Statif
Tissue

Bahan-Bahan Praktikum
Aquades
Larutan asam oksalat 0,05 M
Larutan HCl
Larutan indikator fenolftalein
Larutan NaOH

PROSEDUR PERCOBAAN
Cara membuat larutan baku primer asam oksalat 0,05 M
Asam oksalat ditimbang dengan teliti sebanyak 6,3035 gram.
Asam oksalat dilarutkan dalam labu takar hingga 1000 ml aquades digunakan.
Konsentrasi larutan dihitung dengan rumus:
6,3035/126,070×1 M=0,05 M

Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku asam oksalat (asidimetri)
Buret yang telah bersih dibilas dengan larutan NaOH yang akan dipakai, sebanyak 3 kali masing-masing 5 ml, lalu diisi dengan 50 ml larutan NaOH.
Ke dalam erlenmeyer diisikan sebanyak 20 ml larutan baku asam oksalat.
Ditambahkan 4 tetes larutan indikator fenolftalein.
Keadaan awal kolom buret dicatat lalu diteteskan NaOH dari buret ke dalam larutan asam dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
Keadaan akhir buret dicatat dan jumlah NaOH yang digunakan, ialah selisih antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

Penentuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH (alkalimetri)
Larutan HCl dipipet sebanyak 20 ml ke dalam erlenmeyer.
NaOH yang telah ditentukan konsentrasinya terhadap larutan baku primer asam oksalat diisikan ke dalam buret.
Ditambahkan 4 tetes larutan indikator fenolftalein ke dalam larutan HCl.
Keadaan awal kolom buret dicatat lalu diteteskan NaOH dari buret ke dalam larutan HCl dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
Keadaan akhir buret dicatat dan jumlah NaOH yang digunakan, ialah selisih antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Persamaan reaksi
(COOH)2 (aq) + 2NaOH(aq)  (COONa)2(aq) + 2H2O(l) (asidimetri)

HCl(aq) + NaOH(aq)  NaCl(aq) + H2O(l) (alkalimetri)

Perhitungan
Perhitungan konsentrasi asam oksalat
Diketahui: massa (COOH)2∙ 2H2O = 6,3035 gram
Volume air = 1000 ml = 1 L
Ditanya: M = …?
Jawab:
M= n/V
di mana n = massa/Mr
= 6,3035/126,070
= 0,05
Jadi, M = 0,05/1
= 0,05 M

Perhitungan konsentrasi NaOH
Diketahui: volume NaOH = 14,9 ml
volume (COOH)2∙ 2H2O = 20 ml
konsentrasi (COOH)2∙ 2H2O = 0,05 M
Ditanya: M NaOH = …?
Jawab:
V(NaOH) × M(NaOH) × 1 = V(asam oksalat) × M(asam oksalat) × 2
14,9 ml × M(NaOH) = 20 ml × 0,05 M × 2
M(NaOH) = 2/14,9
M(NaOH) = 0,13 M

Perhitungan konsentrasi HCl
Diketahui: volume HCl = 20 ml
volume NaOH = 17,2 ml
konsentrasi NaOH = 0,13 M
Ditanya: M HCl = …?
Jawab:
V(HCl) × M(HCl) = V(NaOH) × M(NaOH)
20 ml × M(HCl) = 17,2 ml × 0,13 M
M(HCl) = (2,236 M)/20
M(HCl) = 0,1118 M

PEMBAHASAN
Pada praktim kali ini bertujuan untuk mencari menentukan konsentrasi NaOH dengan larutan baku primer asam okslat dan menentukan konsentrasi larutan NaOH dan laruitan HCl dengan titrasi. konsentrasi larutan merupakan suatu param proseseter yang sangat penting dalam perancangan produk. Maupun pengujian hasil-hasil produksi, baikitu merupakan hasil langsung produk itu sendiri, maupun hasil sampingannya, yaitu berupa sisa atau limbah.
Istilah titrasi merujik pada proses pengukuran volumelarutan uju (larutan standar) yang diperlikan untuk mencapai titik kesetaraan. Dalam analisis titrasi, sistem konsentrasi yang digunakan adalah molaritas karena perhitungannya dalam analisis sangat sederhana dan paling sering digunakan dalam prosedur laboratorium. Di dalam beberapa titrasi, titik equivalen adalah selama titik proses titrasi dimana tepatnya titrasi telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree, dimana titran itu sebagai penitrasi,. Sedangkan titree yang dititrasi. Untuk mengetahui kapan penambahan larutan standar itu harus dihentikan, digunakan suatu zat yang biasanya berupa larutan. Yang disebut larutan indikator yang ditambahkan dalam larutan yang diuji sebelumpenetesan larutan uji yang digunakan, larutan indikator yang digunakan adalah larutan indikator fenolftalein sebagai indikator visual yang menandakan terjadinya reaksi sempurna, yaitu ketika warna larutan yang semulanyawarnanya bening menjadi warna merah muda, larutan indikator ini menanggapi munculnya kelebihan larutan uji dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat tepat pada titik kesetaraan (equivalen). Titik dalam titrasi asam basa pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Umumnya larutan uji adalah larutan standar elektrolit kuat, seperti NaOH dan HCl. Jadi apabila larutan uji bersifat basa, maka digunakan larutan yang diuji bersifat asam, ataupun sebaliknya.
Pada percobaan pertama, yaitu menentukan konsentrasi larutan NaOH digunakan larutan baku asam oksalat sebanyak 20 ml, larutan asam oksalat digunakan sebagai larutan yang diuji. Sebelim ditambahkan sedikit demi sedikit demi sedikit larutan uji pada NaOH ditambahkan terlebih dahulu larutan indikator fenolftalein yang berfungsi sebagai indikator fisual yang menandakan terjadinya reaksi sempurna. Pada proses titrasi volume NaOH yang digunakan untuk mampu mengubah warna asam oksalat yang bening menjadi merah muda. Dengan perhitungan dengan menggunakan persamaan berikut : V1 M1 I2=V2 M 2I1 didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0,134.
Pada percobaan menentukan konsentrasi HCl, digunakan larutan HCl sebanyak 20 ml sebagai larutan yang uji. Setelah itu ditambahkan 4 tetes larutan indikator fenolftalein. Larutan NaOH yang sudah diketahui konsentrasinya sebesar 0,134 M, digunakan sebagai larutan uji.volume NaOH digunakan untuk mampu mengubah warna HCl yang bening menjadi merah muda sebesar 17,2 ml karena equivalen NaOH dengan HCl sama, yaini 1 maka untuk mendapatkan konsentrasi HCl digunakan persamaan berikut:
MNaOH x VNaOH = MHC l x VHCl
Sehingga besar konsentrasi HCl yang diperoleh sebesar 0,115
Dalam proses ini mata manusia berperan dalam pengamatan perubahan warna yang terjadi dan perhitungannya (pengelolaan data) dilakukan secara manual. Untuk itu akan dirancang dan dibuat alat pengukur konsentrasi larutan metode titrasi dengan PC sebagai pengendali prases dan pengolaan data.

KESIMPULAN
Pada penentuan konsentrai NaOH diggunakan persamaan berikut : V1 M1 I2=V2 M 2I1 dan didapat konsentrasi NaOH sebesar 0,134.
untuk mendapatkan konsentrasi HCl digunakan persamaan berikut:
MNaOH x VNaOH = MHC l x VHCl dan konsentrasi HCl yang diperoleh adalah sebesar 0,115.

ACARA V
REAKSI REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Untuk mempelajari reaksi redoks beserta perubahan-perubahan yang terjadi.
Untuk mempelajari elektrolisis KI dan reaksi-reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda.
Hari, Tanggal Praktikum
Kamis, 29 Maret 2012
Tempat Praktikum
Laboratorium Kima Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Elektrolisis adalah proses untuk menjalankan reaksi kimia dalam arah yang tidak spontan dengan menggunakan arus listrik. Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia dimana arus listrik dari sumber eksternal digunakan untuk menjalankan reaksi yang tak spontan. Sel elektrolisis konstruksinya berbeda dengan sel galvani atau sel volta. Secara spesifik, kedua elektroda massanya terdapat dalam bagian yang sama, massanya hanya satu elektrolit dan konsentrasi, serta tekanannya jauh dari standar (Purba, 2007:387).
Proses titrasi dimana agen pengoksidan dan agen pereduksi terpisah dengan salah satu titran dan yang lainnya sebagai titree. Yang sering dilakukan di laboratorium dengan tujuan untu7k menganalisis disebut titrasi redoks. Titrasi asam basa selalu diikuti dengan terjadinya perubahan pH. Begitu pula dengan titrasi redoks, selalu diikuti dengan perubahan potensial (snydeer, 2005:226).
Ketika elektrolisis terjadi dalam suatu larutan, reaksi pada elektroda sangat sulit untuk diprediksi, karena ada kemungkinan oksidasi dan reduksi air juga terjadi. Sebagai contoh: ketika larutan porasium nitrat dielektrolisis, hasilnya adalah hidrogen dan oksigen, karena pada katoda, air yang tereduksi bukan K+ dan pada anoda air yang tereduksi bukan ion nitrat. Perubahan warna dari indikator asam basa yang terlarut didalam larutan menunjukan bahwa larutan menjadi basa disekitar katoda dan asam disekitar anoda sebagaimana elektrolisis terjadi (Sugiarto. 2001:131).
Aplikasi analitis dari reaksi redoks adalah sama hasnya dengan aplikasi dari reaksi asam basa. Dalam hal ini dapat diketahui dengan dilakukan titrasi redoks. Sebagai contoh, sejumlah besi dalam bentuk biji besi dapat ditentukan kuantitasnya dengan cara titrasi ini. Sampel yang akan dianalisis adalah terlarut, terkonversi dalam bentuk ion vero dan titrasi dengan larutan dikroma. Kita memiliki beberapa cara untuk mengetahui kapan semua ion ferol terkonversi ke ion feri. Selama titrasi, nilai dari potensial sel, yang telah diukur dari kekuatan mengoksidasi larutan berubah. Selama titrasi, kemampuan mengoksidasi larutan bertambah (Hhp://ide.wilkipedia.org/wiki/redoks).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-Alat Praktikum:
Bunsen
Corong
Dongkrak
Elektroda
Gelas ukur 25 mL
Klem
Penjepit
Pipa U
Pipet tetes
Pipet volum 10 mL
Power supply
Rak tabung reaksi
Spatula
Statif
Stopwatch
Tabung reaksi

Bahan-Bahan Praktikum:
Bubuk MnO2
Larutan CHCl3
Larutan CuSO4 0,5 M
Larutan FeCl3 0,1 M
Larutan H2O2 0,1 M
Larutan H2SO4 1 M
Larutan indikator fenolftalein
Larutan kanji 1%
Larutan KI 0,1 M
Larutan KI 0,2 M
Larutan ZnSO4 0,5 M
Logam Cu
Logam Zn

PROSEDUR PERCOBAAN
Beberapa Reaksi Redoks
Dimasukkan 2 mL larutan CuSO4 0,5 M ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah logam Zn. Dibiarkan selama beberapa menit dan dicatat apa yang terjadi. Sebaliknya, logam cu dimasukkan ke dalam larutan ZnSO4 0,5 M dan diamati apa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi dijelaskan dengan menggunakan potensial elektroda.
Reaksi disproposionasi. Sebanyak 10 tetes larutan H2O2 0,1 M ditambahkan bubuk MnO2 untuk mengkatalisa reaksi disproposionasi.
Ke dalam 5 tetes larutan H2O2 0,1 M ditambahakan 5 tetes larutan H2SO4 1 M, 10 tetes larutan KI 0,1 M dan satu tetes larutan kanji 1%. Diamati peristiwa yang terjadi.
Sebanyak 5 tetes larutan FeCl3 0,1 M dicampur degan 10 tetes larutan H2SO4 1M dan 10 tetes larutan KI 0,1 M. Panaskan larutan hingga mendidih dan ditambah setetes larutan kanji. Amati dan dicatat peristiwa yang terjadi.

Elektrolisis Larutan KI
Larutan KI 0,2 M dimasukkan ke dalam pipa U sampai 2 cm dari mulut pipa.
Elektroda dipasang dan dihubungkan dengan sumber arus 6 volt selama 5 menit.
Dicatat perubahan yang terjadi pada ruang anoda dan katoda.
Dari ruang katoda, diambil 2 mL larutan lalu ditambahkan beberapa tetes larutan indikator fenolftalein dan 2 mL larutan FeCl3 0,1 M. Dicatat peristiwa yang terjadi.
Dari ruang anoda, diambil 2 mL larutan dan ditambahkan 1 mL larutan CHCl3 lalu dikocok, diperhatikan lapisan CHCl3. Semua hasil dicatat dan ditulis persamaan reaksinya.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Reaksi Redoks
(i) Zn(s) + CuSO4(aq) → ZnSO4(aq) + Cu(s)
CuSO4(aq) → Cu2+(aq) + SO42-(aq)
Reduksi : Cu2+ + 2e- → Cu Eº = +0,34 V
Oksidasi : Zn → Zn2+ + 2e- Eº = -0,76 V

Cu2+ + Zn → Cu + Zn2+ Eº = +1,10 V
Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

(ii)Cu(s) + ZnSO4(aq) → CuSO4(aq) + Zn(s)
ZnSO4(aq) → Zn2+(aq) + SO42-(aq)
Reduksi : Zn2+ + 2e¬- → Zn Eº = -0,76 V
Oksidasi : Cu → Cu2+ + 2e- Eº = +0,34 V

Zn2+ + Cu → Zn + Cu2+ Eº = -1,10 V
Reaksi tidak terjadi secara spontan karena Eº bernilai negatif.

Reaksi Disproposionasi
2H2O2(l) ¬ MnO2(s) 2H2O(l) + O2(g)
Reduksi : H2O2 + 2H+ + 2e- → 2H2O Eº = +1,77 V
Oksidasi : H2O2 → O2 + 2H+ + 2e- Eº = -0,69 V
+
2 H2O2 → 2H2O + O2 Eº = +1,08 V
Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

2H2O2 + H2SO4 + 2KI + kanji → K2SO4 + I2 + 2H2O
H2O2 + H2SO4 → 2H2O + SO42-
SO42- + 2KI → K2SO4 + I2
Reduksi : S2O42- + 2e- → 2SO42- Eº =
Oksidasi : 2I- → I2 + 2e- Eº =
+
S2O43-+2I- → 2SO42- + I2

2FeCl3(aq) + 3H2SO4(aq) + 6KI(aq) → 2FeSO4 + 6KCl + 6HI
Reduksi : 6Fe3+ + 6e- → 6Fe2+ Eº = +0,77 V
Oksidasi : 6I- → 3I2 + 6e- Eº = -0,54 V
+
6Fe3+ + 6I- → 6Fe2+ Eº = +0,23 V
Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

Elektolisis Larutan KI
Reaksi : KI(aq)¬ → K+(aq) + I-(aq)
Katoda : 2H2O + 2e- → H2 + 2OH- Eº = -0,83 V
Anoda : 2I- → I2 + 2e- Eº = -0,54 V
+
2H2O + 2I- → H2 + 2OH- + I2 Eº = -1,37 V

Dari ruang katoda diambil 2 mL larutan + larutan indikator PP + larutan FeCl3
Reaksi : 3OH-(aq) + PP + FeCl3(aq) → Fe(OH)3(aq) + 3Cl-(aq)

Dari ruang anoda diambil 2 mL larutan + larutan CHCl3
Reaksi : 3I2(aq) + CHCl3(aq) →

PEMBAHASAN
Reaksi redoks merupakan reaksi yang melibatkan perpindahan elektron dari suatu skesenyawa lainnya.reaksi redoks juga merupakan reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Reaksi sebagai sumber arus yaitu dalam sel volta, seperti batu, batrei dan aqi. Reaksi redoks tidak spontan dapat dilangsungkan dengan menggunakan arus listrik, yaitu dalam elektrolisis.
Reaksi reduksi dapat menimbulkan potensial listrik yang disebut potensial elektroda (E0). Zat yang Memiliki potensial elektroda yang besar akan lebih muda mengalami reduksi. Harga E sebanding dengan harga E relatif yang diibandingkan terhadap elektoda standar.
Harga E0 disebut potensial elektrode standar . berdasarkan harga E0 disusun suatu deret yang di sebut deret volta sebagai berikut: L-K-Ba-La-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Ni-Co-Sn-Pb-(H)-Cu-Hg-Ag-pt-Au. Unsur unsur pada deret volta hanya mampu mereduksi unsur unsur disebelah kananya, tetapi tidak mampu merduksi unsur unsur yangberada disebelah kirinya.
Dari percobaan pertama, yaitu beberapa reaksi redoks, kita dapat mengetahui suatu reaksi dikatakan berlangsung spontan,jika terjadi perubahan pada reaksi tersebut dan jika harga E0 sel positif. Begitupun sebaliknya, suatu reaksi di katakan berlangsung tidak spontan jika tidak terjadi perubahan pada reaksi dan jika harga E0 sel negatif. Pada penambahan logam Zn pada larutan CuSo4 terjadi perubahan warna pada larutan, dimana larutanya berubah menjadi bening dan logamnyapu melebur. Slain itu, setelah dilakukan perhitungan E0 sel yang didapat bernilai positif,yakni +1.10V. hal ini menunjukan bahwa reaksi berlangsung secara spontan. Bila berdasarkan urutan logam, pada deret volta, logam Zn berada disebelah kanan logam Cu. Sehingga logam Zn lebihreaktif dan merupakan reduktor kuat bila dibandingkan dengan logam Cu sehingga logam Zn dapat mendesak logam Cu dari senyawa. Sebaliknya reaksi antara logam Cu dengan ZnSO4, reaksi tidak berlangsung secara spontan. Hal tersebut disebabkan kareana Zn terletak disebalah kanan Cu pada deret volta sehingga logam Cu tidak dapat mendesak logam Zn dari senyawanya. Hal ini dapat dilihat dari E0 sel yang bernilai negatif dan tidak terjadinya perubahan pada reaksi.
Pada percobaan selanjutnya 10 tetes H2O2 yang ditambahkan bubuk MnO2 (bubuk) berfungsi sebagai katalis. Reaksi ini merupakan reaksi dispropanionasiyaitu zat yang dapat mengalami reaksi oksidasi dan reduksi sekagus. Pada saat dekomposisi H2O2 terurai menjadi air (H2O) sebagai reaksi reduksi dengan oksigen (O2) sebagai reaksi oksidasi, warna larutan menjadi abu, nilai E0 =+10v, hal ini berarti menunjukan bahwa reaksi berlangsung secarabspontan. Pada percobaan ini, terjadi beberapa hal, diantaranya larutan mengeluarkan asap, mendidih dan larutan hitam kotor.
Pada percobaan H2O yang ditambahkan H2SO4, KI dan larutan kanji terjadi perubahan warna menjadi kuning pekat (mendekati orange). Pada pencampuran FeCl3 dengan H2SO4 warna lariutan menjadi semakin muda agak keruhdan terdapat kotoran, tetapi setelah ditambahkan KI warna larutan menjadi orange, hal tersebut terjadi karena iodim berfungsi sebagai indikatornya sendirdi. Setelah campuran larutan dipanaskan terjadi perubahan warna, larutan menjadi warna biru dan mengeluarkan asap, kemudian campuran larutan tersebut ditambahkan kanji warna larutan berubah menjadi hitam, perubahan warna trsebut menunjukan bahwa reaksi berlangsung spontan. Selain itu terdapat harga E0 sel + 0.23 v.
Percobaan selanjutnya yaitu elektrolisis larutan KI dengan menggunakan elektroda karbon yang termasuk elektroda inert (tidak bereaksi) maka dalam hal ini katoda yang direduksi adalah H2O dengan reaksi: 2H2O(l)+2e 2OH-+H2(l)
Sedangkan anoda yang mengalami oksidasi adalah 2I-(aq) I2(aq)+2e-
Saat elektroda dihubungkan dengan arus 6 v OH selama ±5 menit terjadi perubahan pada anoda yang semula bening menjadi kunung, namun tidak terdap gelembung. Sedangkan pada katoda terdapat gelembung disekitar elektroda. Adanya gelompung pada katoda menunjukan pada larutan terdapat aliran listrik atau energi listrik. Energi dapat mengubah reaksi, dimana reaksi semula yang tidak spontan berubah menjadi reaksi spontan.
Pada katoda terjadi reaksi H2O disebabkan ion K+ dalam bentuk larutan mempunyai potensial reduksi lebih kecil dibandingkan dengan potensial reduksi dari H2O. Reaksi pada katoda menghasilkan ion OH- dan ion H+. Ketika ditetesi indikator PP warna larutan berubah menjadi ungu muda. Dan dapat dilihat pada hasil reaksi di katoda yang dapat membentu ion OH. Sebagai ion penanda sifat basa (menurut teori Archeniuss). Ketika larutan tersebut ditetesi FeCl3 0,1 M warna larutan berubah menjadi merah terang.
Pada anoda terjadi reaksi ion I-, terbentuk senyawa iodium (I2) Hal ini dapat diketahui saat penambahan kloroform (CHCl3), setelah dikocok terbentuk dua fasa yang tidak saling campur yaitu fasa cair yang berwarna kekuningan dan fasa organik yang berwarna bening (iodium yang tidak bisa larut dalam pelarut organik akan membentuk lapisan tabung). Hal ini dapat disimpulkan bahwa yang terjadi dianoda adalah senyawa iodium (I2). Pelarut organik (plorotom). Pembentukan dua fasa disebut ekstrasi.

H. KESIMPULAN
Reaksi redoks dikatakan berlangsung spontan, jika pada reaksi terjadi perubahan dan E0 sel bernilai positif dan reaksi redoks membutuhkan perpindahan electron dari suatu senyawa ke senyawa lain atau perubahan biloks dan senyawa itu.
Pada elektrolisis KI dengan elektroda korbon, terjadi reaksi oksidasi ion I- pada anoda dan reduksi H2O pada katoda.

ACARA VI
KINETIKA KIMIA

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui pengaruh katalis terhadap laju reaksi.
Hari, Tanggal Praktikum
Kamis, 19 April 2012
Tempat Praktikum
Laboratorium Kima Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat dan ada yang bereaksi sangat lambat. Pembahasan tentang kecepatan atau laju reaksi disebut kinetika kimia. Kinetika kimia dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi laju reaksiberguna dalam mengontrol kecepatan reaksi sesuai yang diinginkan (sastra homidjojo, 2005:158).
Kinetika kimia merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajaritentang proses yang berhubungan dengan kecepatan atau laju suatu reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Di setiap reaksi yang ada di alam ini, terjadi pengurangan jumlahzat pereaksi dan penambahan jumlah zat hasil reaksi. Besarnya pengurangan jumlah zat pereaksi dan penambahan jumlah zathasil reaksisetiap satuan waktu dikenal dengan konsep laju reaksi. Dalam praktek suatu reaksi kimia dapat berlangsung dengan laju atau kecepatan yang berbeda-beda (Anonim, 2012).
Katalis adalah suatu zat yang mampu mempengaruhi laju reaksi, yang pada akhir reaksi didapatkan kembali tampa mengalami perubahan kimia. Ada dua macam katalis yaitu, katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif yang dikenal sebagai inhibitor, yang berfungsi memperlambat laju reaksi. Katalis positif berperan menurunkan energi dan membuat orientasimolekul sesuai dengan terjadinya tumbukan. Hal ini menjadi syarat terjadinya reaksi yaitu, energi tumbukan molekul-molekul reaktan harus melampaui energi pengaktifan dan orientasi molekul harus sesuai dengan terjadinya reaksi (pertana, 2003:54).
Laju didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi persatuan waktu. Satuan yang umum adalah mol dm-3-1. Umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi dan dapat dinyatakan sebagai laju G F (C1,C2….Ci) atau laju sama dengan Kf=(C1,C2….Ci). dimana K adalahkonstanta laju spesifik atau konstanta kecepatan C1,C2….Ci (rahayu,2009:136).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-Alat Praktikum:
Labu ukur 25 mL
Pipet tetes
Rak tabung reaksi
Stopwatch
Tabung reaksi
Bahan-Bahan Praktikum:
Aquades
Larutan H2C2O4 0,05M
Larutan H2SO4 0,5M
Larutan H2SO4 2M
Laruta KMnO4 0,01M
Larutan MnSO4 0,18M

PROSEDUR PERCOBAAN
Diencerkan 50 tetes larutan KMnO4 0,01M dengan menambahkan aquades hingga volumenya 25 mL.
Diencerkan 50 tetes larutan H2C2O4 0,05M dengan menambahkan aquades hingga volumenya 25 mL.
Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 tetes larutan H2C2O4 dan 2 tetes larutan H2SO4 2M. Ditambahkan 1 tetes larutan KMnO4 lalu dikocok dan dicatat waktu dari awal panambahan larutan KMnO4 hingga warnanya menghilang.
Larutan KMnO4 ditambahkan setes demi setetes hingga 12 tetes dan dicatat waktu dari awal penambahan hingga warna larutan KMnO4 hilang.
Pada tabung reaksi lainnya, di masukkan 4 tetes larutan H2C2O4, 2 tetes laturan H2SO4 0,5M dan 1 tetes larutan MnSO4 0,18M. Ditambahkan 1 tetes larutan KMnO4 dan dicatat waktu dari awal penambahan KMnO4 hingga warnanya menghilang.
Dari hasil pengamatan yang diperoleh, dibuat grafik hubungan antara jumlah tetesan KMnO4 dengan waktu yang dibutuhkan dari awal penambahan hingga warnanya menghilang.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi
Reaksi pengenceran
KMnO4(l) + H2O(l) → KMnO4(aq) + H2O(l)
H2C2O4(l) + H2O(l) → H2C2O4(aq) + H2O(l)
Reaksi penetesan KMnO4
2KMnO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 5H2C2O4(aq) → K2SO4(aq) + 2MnSO4(aq) + 10CO2(g) + 8H2O(l)
2KMnO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 5H2C2O4(aq) + MnSO4(aq) → K2SO4(aq) + 3MnSO4(aq) + 10CO2(g) + 8H2O(l)
2KMnSO4(aq) + 5H2C2O4(aq) + 6H+ → 2Mn+ + 10CO2(g) + 8H2O(l)

Tabel Hasil Pengamatan
Tabung Reaksi Tetesan H2C2O4 Tetesan H2SO4 0,5M Tetesan H2SO4 2M Tetesan MnSO4 0,18M Tetesan KMnSO4 ke- Waktu (detik)
1 4 - 2 - 1 18,01
1 4 - 2 - 2 9,42
1 4 - 2 - 3 6,98
1 4 - 2 - 4 8,07
1 4 - 2 - 5 7,06
1 4 - 2 - 6 7,05
1 4 - 2 - 7 7,24
1 4 - 2 - 8 7,80
1 4 - 2 - 9 7,58
1 4 - 2 - 10 6,39
1 4 - 2 - 11 8,90
1 4 - 2 - 12 8,42
2 4 1 - 1 1 3,55

Grafik Hubungan Waktu (detik) dengan Jumlah Tetesan Larutan KMnO4

PEMBAHASAN
Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi persatuan waktu. Laju reaksi dipengatuhi oleh konsentrasi zat yang bereaksi, temperatur, katalisserta keadaan pereaksi.
Pada percobaan pertama yaitu, dengan melakukan pengenceran KmnO4 0,01 M dan H2C2O4 0,05 M, dengan menggunakan aquades. Awalnya warna KmnO4 adalah ungu tua, tetapi setelah ditambah aquades dengan volume tertentu terjadinya perubahan, dimana warna larutan KmnO4 terlihat lebih muda dan encer. Begitu juga dengan H2C2O4, setelah ditambah aquades terlihat warnanya lebih bening dan bersih. Hal-hal tersebut terjadi karena aquades sebagai pereaksi memiliki bentuk fisik yang bening dan sangat encer, sehingga dapat menimbulkan perubahan warna pada kedua larutan tersebut.
Percobaan selanjutnya y6aitu menentukan pengaruh katalis terhadap laju reaksi. Katalis adalh suatu zat yang dapat mempercepat terjadinya reaksi tampa menambah konsentrasiatau suhu. Katalis biasanya ikut bereksi sementara dan kemudian terbentuk kembali sebagai zat bebas, selanjutnya bereaksi lagi dengan mempercepat terjadinya reaksi dan bebas kembali. Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap 12 tetes KmnO4 0,1 M. Dimana hasil yang diperoleh yaitu, sebagai berikut: pada tetes KmnO4 ke-1 didapa waktu10.01 sekon, tetes KmnO4 ke-2=09,42, tetes KmnO4 ke-3=06,98, tetes KMnO4 Ke-4 =08,07, tetes KmnO4 ke-5=07,06, tetes KmnO4 ke-6=07,05, tetes KmnO4 ke-7=07,24, tetes KMnO4 Ke-8 =07,80 tetes KmnO4 ke-9=07,58, tetes KmnO4 ke-10=06,39, tetes KmnO4 ke-11=08,90, dan tetes KMnO4 Ke-12 didapat waktu=08,42. Dengan dilakukan pengamatan terhadap 12 tetes KmnO4, kemungkinan sudah bisa menggambarkanbagaimana pengaruh katalis didalam reaksi. Dilihat dari grafik yang terlihat naik turun dan hampir terjadi kestabilan pada tetes KmnO4 ke-5 dan tetes KmnO4 ke-6, hanya saja didapat selisih waktu 0,1 sekon. Hal ini dikarenakan kadar kejenuhan larutan apabila waktu yang dibutuhkan larutan agar warna KmnO4 hilang tersebut lama, maka larutan dalam keadaan jenuhkemudian setelah itu kembali menjadi normal lagi dan menghasilkan waktu menghilangkan KmnO4 yang kembali cepat.
Pada percobaan terakhir, dengan menggunakan dua katalis sekaligus yaitu, H2SO4 dan MnSO4 sehingga pada saat KmnO4 diteteskan, dibutuhkan waktu yang cepat untuk menghilangkan warna KmnO4. Dapat disimpulkan bahwa larutan yang menggunbakan 2 katalis mengakibatkan laju reaksinya relatif lebih cepat debandingkan dengan hanya menggunakan 1 katalis saja.
KESIMPULAN
Katalis adalah zat yang dapat mempercepat suatu reaksi, semakin banyak katalis yang dimasukin kedalam suatu tabung reaksi maka semakin cepat reaksi itu berlngsung.

ACARA VII
KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum:
Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi.
Untuk mengetahui cara pembuatan koloid engan cara dispersi.
Untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emulsi).
Untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid.
Untuk mengetahui cara pembuatan sabun.
Untuk mempelajari denaturasi protein.
Hari, Tanggal Praktikum:
Kamis, 26 April 2012
Tempat Praktikum:
Laboratorium Kima Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Koloid adalah suatu senyawasehingga sifatnya ada yang sama dan berbeda dengan larutan, sifat khusus kaloid timbul akibat partikelnya yang lebih besar dari pada partikel larutan. Kaloid yang sangat banyak dibicarakan adalah dalam medium cair. Unit terkecil fasa terdispersi adalah partikel yang terbentuk molekul. Materi dalam keadaan koloid mempunyai jumlah permukaan yang lebih luas dibandingkan dalam bentuk gumpalan. Pada permukaan koloid terdapatmolekul atau ion lain disekitarnya. Melekatnya zat lain pada permukaan koloid itu disebut adsopsi. Kaloid bila didiamkan dalam waktu tertentu akan terpengaruh oleh gaya grafitasi, sehingga partikelnya perlahan turun kedasar bezona yang disebut kogulasi atau gumpalan (goldbery, 173).

Ada dua cara kolooidterbentuk, pertama dari senyawa yang bermolekul besar, satu molekul menjadi satu molekul koloid. Kedua, satu partikel koloid terbentuk dari gabungan banyak partikel kecil, parikel yang bergabung itu mungkin dalam bentuk molekul, ion atau atom. Suatu koloid selalu mengandung 2 fase yang berbeda menyerupai gas, cair atau padat. Pengertian fase disini tidak sama dengan wujud, karena ada wujud sama tetapi fasenya berbeda, suatu koloid memiliki fase terdispersi dan fase pendispersi.fase terdispersi mirip dengan zat terlarut, sedangkan pendispersi mirip dengan pelarut pada suatu larutan (stedhen,2002:162).

Dalam campuran homogen dan stabil yang disebut larutan, molekul, atom, ataupun ion disebarkan dalam suatu zat kedua. Dengan cara yang agak mirip materi koloid dapat dihamburkan atau disebarkan dalam suatu medium sinambung, sehingga dihasilkan suatu diperse (sebaran) koloid atau sistem koloid. Selei, moyones, tinta, cina, susu, dan kabut merupakaan contoh koloid yang dikenal dalam sistem-sistem semacam itu, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi (tersebar dan materi kontinu dana mana partikelitu tersebar) disebut pendispersi atau medium pendispersi (Arsyad, 2001:21).

Lemak atau minyak nabati maupun hewani adalah cntoh dari gliserol dan lemak jenuh atau minyak yang dapat gidrolisi oleh larutan alkali menjadi garam dari asam lemak yang sehari-hari kita kenal sebagai sabun. Reaksi hidrolisaini disebut penyabunan atau sofanifikasi (anonom, 2012).

Asam amino merupakan unut pembangunan protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya, protein tersusun dari atom C, H, O dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat dialam hanya 20 asam amino yang biasa dijumpai pada protein. Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada setiap molekulnya yaitu gugus aminodan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion yang dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asitilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat(girindra, 2000:7).

Data kesetimbangan biasanya digambarkan dalam bentuk kurva isotem adsopsi. Pendekatan dengan model terhadap kurva isoterm dapat membantu menganalisis karakteristik isoterm berupa kapasitas, afinitas, selektifitas, serta mekanisme interaksi adsobsi. Adsorpsi oleh gugus aktif bahan organik merupakan adsopsi kimia. Model langmuir dapat digunakan sebagai pendekatan untuk sistem ini. Menurut lengmuir pada permukaan adsorben terdapat situs-situs aktifbersifat homogen yang proporsional dengan luas permukaan masing-masing situs aktif hanya dapat mengadsorpsi satu molekul adsorban saja, sehingga absorpsi hanya akan terbatas pada pembentukan lapisan tunggal dinyatakan: qc=q0 kce/(kce+1), konsanta-konstanta pada persamaan diselesaikan dengan metode leastsquare (Amrin, Amun. 2004:2-3).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-Alat Praktikum:
Batang pengaduk
Bunsen
Corong 60 mm
Corong 90 mm
Gelas kimia 100 mL
Gelas kimia 20 mL
Gelas kimia 250 mL
Gelas ukur 100 mL
Gelas ukur 50 mL
Hot plate
Mortar
Pemanas elektrik
Penggerus
Penjepit
Pipet tetes
Pipet volume 5 mL
Rak tabung reaksi
Rubber bulb
Spatula
Tabung reaksi
Bahan-Bahan Praktikum:
Air keran
Aquades
Detrgen
Gula pasir
Karbon aktif
Kertas lakmus
Kertas saring
Laruan nacl jenuh
Laruta CaCl2
Larutan benzena
Larutan CuSO4 1%
Larutan etil alkohol (C2H5OH)
Larutan FeCl3 jenuh
Larutan HgCl2 1%
Larutan HNO3 pekat
Larutan iod
Larutan NaOH 40%
Larutan NaOH 6M
Larutan Pb(OAc)¬2¬¬
Minyak kelapa (Na-oleat)
Telur
Tepung kanji
Tissue

PROSEDUR PERCOBAAN
Koloid
Pembuatan Koloid
a.1 Koloid As2S3
Ke dalam erlenmeyer dimasukkan 100 mL air dan kira-kira 1,5 gram As2S3.
Campuran ini dipanaskan hingga mendidih lalu didinginkan hingga suhu kamar.
Setelah dingin, campuran tersebut di dekantasi.
Ke dalam erlenmeyer lain, dimasukkan 250 mLair suling kemudian dijenuhkan dengan H2S.
Setelah jenuh, sementara H2S dialirkan, perlahan-lahan ditambahkan larutan arsen tadi.
Koloid ini disimpan untuk percobaan koagulasi.
a.2 Koloid Fe(OH)3
Air sebanyak 50 mL dipanaskan hingga mendidih.
Ditambahkan FeCl3 jenuh setetes demi setetes hingga menjadi merah coklat sambil diaduk.
Dihitung jumlah tetes FeCl3 yang digunakan.
Larutan koloid ini disimpan untuk percobaan koagulasi.

Koagulasi
Dicampurkan 1 mL koloid Fe(OH)3 dan 1 mL koloid arsen(III) sulfida.
Diamati peristiwa yang terjadi.

Dispersi
Diambil 1 sendok amilum (tepung kanji) dan dicampurkan dengan 10 mL air.
Kemudian diaduk dan disaring (filtrat A).
Diambil pula 1 sendok amilum dan digerus dalam mortar lalu dicampurkan dengan 10 mL air.
Campuran ini diaduk lalu disaring (filtrat B).
Filtrat A dan filtrat B dibandingkan.
Pada filtrat B ditambahkan 6 tetes larutan iodium.

Emulsi
Ke dalam suatu tabung reaksi dimasukkan 1 mL larutan benzena dan 10 mL aquades.
Tabung reaksi tersebut dikocok dan diamati.
Ke dalam tanbung reaksi lainnya, dimasukkan 1 mL benzena dan 10 mL aquades lalu ditambahkan 15 tetes Na-oleat.
Tabung reaksi kedua ini kemudian di kocok dan didiamkan selama 10-15 menit.

Pembuatan Gel
Ke dalam suatu gela bejana dimasukkan 15 mL larutan kalsium asetat jenuh.
Ke dalam gelas kimia lainnyta dimasukkan 85 mL C2H5OH 95%.
Kedua larutan ini segera dicampurkan.
Dimasukkan sedikit gel ke dalam cawan penguapan kemudian di bakar.

Adsorpsi
Dilarutkan 1 sendok porselin gula pasir dalam 10 mL aquades lalu ditambahkan setengah sendok norit dalam suatu tabung reaksi.
Tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air panas.
Tabung reaksi selanjutnya dikocok selama 10 menit lalu disaring.
Warna larutan setelah disaring dibandingkan dengan warna awal larutan.

Lemak dan Protein
Lemak
Dilarutkan suatu deterjen lalu diperiksa dengan kertas lakmus.
Ke dalam suatu gelas kimia dimasukkan 5 mL larutan NaOH 40%, 5 mL minyak kelapa dan 5 mL etil alkohol.
Gelas kimia tersebut lalu dipanaskan dengan hati-hati sambil terus di aduk hingga memadat.
Setelah padat, ditambahakan air lalu dipanaskan lagi hingga seluruh air menguap dan terbentuk padatan.
Setelah memadat, gelas kimia dan isinya didinginkan lalu diletakkan di atas kertas saring.
Kemudian dibilas dengan 40 mL larutan NaCl jenuh.
Sabun tersebut dicoba untuk mencuci tangan, jika masih lengket ditambahkan lagi larutan NaOH dan etil alkohol lalu dipanaskan.
Sabun yang dibuat, setengah bagian dilarutkan dalam 100 mL aquades dan ditambahkan 5 mL CaCl2, dikocok dan diamati.
Ke dalam gelas kimia lain, dibuat larutan sabun dengan mencampurkan 10 mL aquades dengan deterjen kemasan.
Ke dalam 3 tabung reaksi berbeda dimasukkan 2 sampai 3 tetes larutan deterjen.
Ke dalam tabung reaksi pertama ditambahkan 10 mL air keran, ke dalam tabung reaksi ke dua ditambahkan 10 mL aquades, dan ke dalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 10 mL aquades dan beberapa tetes larutan CaCl2.
Diamati peristiwa yang terjadi.
Dengan larutan sabun yang telah dibuat dengan menggunakan sabun hasil percobaan, ditambahkan 2 sampai 3 tetes larutan sabun ke dalam:
10 mL aquades dan beberapa tetes CaCl2
10 mL air keran
10 mL aquades
Diamati dan dicatat peristiwa yang terjadi.

Protein
Sebanyak 2 mL putih telur ditambahkan 12 mL air lalu diaduk.
Jika larutan tidak bening, ditambahkan garam sampai bening.
Disediakan 5 buah tabung reaksi dan kedalam masing-masing tabung dimasukkan 2 mL larutan putih telur.
Ke dalam tabung pertama ditambahkan 1 mL larutan CuSO4 1% dan larutan NaOH 6M tetes demi tetes hingga 3 tetes.
Ke dalam tabung kedua ditambahkan 1 mL larutan HNO3 pekat. Dipanaskan lalu didinginkan, kemudian ditambahkan larutan NaOH 6M dan diaduk.
Ke dalam tabung ketiga ditambahkan 1 mL larutan HgCl 1% dan diamati.
Ke dalam tabung reaksi keempat di tambahkan 1 mL larutan NaOH 6M lalu dipanaskan. Setelah timbul uap, dicium bau yang keluar dan uapnya diperiksa dengan kertas lakmus.
Pada tabung reaksi kelima ditambahkan beberapa tetes larutan Pb(OAc)2 dan 1 mL larutan NaOH 6M kemudian dipanaskan.

HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi
Pembuatan Koloid Fe(OH)3
FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(sol) + 3HCl(aq)

Reaksi Penyabunan
(C17H35COO)3C3H3(aq) + 3NaOH(aq) → C3H3(OH)(aq) + 3C17H35COONa(s)
(RCO2)3C3H5(aq) + 3NaOH(aq) → 3CO2Na + C3H5(OH)3(aq)
Dengan struktur :
O
CH2 O C C17H35 CH2 OH
O
CH2 O C C17H35 + 3NaOH → CH OH + 3C17H35COO- + Na+
O
CH2 O C C17H35 CH2 OH

Denaturasi Protein
Penambahan CuSO4 1%
CuSO4 CH COOH ↔ CuSO4 CH COO

NH2 NH3

Penambahan HNO3 pekat
HNO3 CH COOH ↔ HNO3 CH COO

NH2 NH3
Penambahan HgCl2
HgCl2 CH COOH ↔ HgCl2 CH COO

NH2 NH3

Penambahan NaOH
NaOH CH COOH ↔ NaOH CH COO

NH2 NH3

Penambahan Pb(OAc)2
Pb(OAc)2 CH COOH ↔ Pb(OAc)2 CH COO

NH2 NH3

PEMBAHASAN
Praktikum kali ini yaitu tentang koloid dan senyawa karbon yang bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi dan dispersi, untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emulsi), untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid, untuk mengetahui cara pembuatan sabun dan untuk mempelajari denaturasi protein. Pada percobaan pertama yaitu cara pembuatan koloid Fe (OH)3, terjadi suatu reaksi hidrolisis yaitu reaksi pembentukan koloid dengan menggunakan pereaksi air. Reaksi tersebuut terjadi karena apabila kedalam air mendidih ditambahkan dengan larutan FeCl3 maka akan terbentuk sol Fe(OH)3. Sol merupakan suatu sistem koloid yang terjadi jika partikel zat padat terdispersi didalam zat cair. Air yang digunakan dalam percobaan ini menggunakan air yang mendidih karena dengan adanya suhu yang tinggi maka reaksi akan berlangsung lebih cepat sehingga partikel-partikel dalam senyawa FeCl3 akan lebih mudah terdispersi oleh air dan hidrollisis FeCl3pun semakin cepat.
Pada percobaan kedua terjadi peristiwa dispersi yaitu pembuatansuatu koloid yang dilakukan dengan cara mengubah partikel kasar (besar) menjadi partikel koloid. Pada gelas kimia pertama yang telah dimasukkan satu sendok amilum dan 10 ml air, menghasilkan warna agak keruh, namun pada gelas kimia yang berisi amilum yang sudah digerus sebelumnya ditambahkan air, warnanya lebih keruh setelah larutan dalam kedua gelas kimia tersebut disaring. Hal tersebut terjadi karena pada gelas kimia kedua dihasilkan dari proses dispersi yang dilakukan dengan cara mekanik. Pada filtrat yang kedua ditambahkan dengan larutan iodium dihasilakn warna biru tua. Hal tersebut terjadi karena terdapat adanya susunan dari pati yang bernama amilopektin (tidak dapat dalam air panas) yang jika ditambah dengan larutan yodium akan berubah menjadi biru tua.
Pada percobaan ketiga yaitu pada percobaan pembuatan emulsi minyak dengan air diperoleh dengan cara mencampurkan air, benzena, dan minyak lalu dikocok dengan keras. Emulsi yang terjadi pada proses ini disebut dengan emusi cair. Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang bercampur tetapi tidak dapat saling melarutkan atau dapat juga disebut zat cair polar dan nonpolar. Polarnya adalah air sedangkan nonpolarnya adalah minyak, sedangkan benzena berperan sebagi emugator yang merupakan komponen yang penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Benzena merupakan salah satu pengemulsi yang memiliki gugus polar dan nonpolar. Bagian polar akan mencoba berinteraksi dengan air melalui pengocokan sedangkan nonpolar akan berinteraksi dengan minyak / mengelilingi partikel minyak. Kemudian penjelasan mengenai mengapa larutan minyak dan benzena terletak dilapisan atas, itu terjadi karena massajenis air lebih besar dari massa jenis minyak walaupun benzena terlihat seperti mengapung diatas air.
Pada percobaan keempat terjadi reaksi adsorpsi (aktif permukaan) antara partikel gula dengan air. Ketika partikel-partikel gula dimasukkan atau ditempatkan didalam air, maka partikel air tersebut akan terakumulasi atau diserap oleh partikel gula pada permukaan gula permukaan zat dan akhirnya men\mbentuk suatu lapisan tipis atau Hm (zat terserap,adsorbat) pada permukaanya. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaanya. Pada tahap selanjutnya, yaitu pemberian norid yang dilanjutkan dengan proses pengocokan pada benzona gelas yang berisi air yang mendidih diperileh hasil bahwa norid dapat larut dalam campuran tersebut, namun lama kelamaan terbentuk pengendapan dan setelah disaring filtrat yang terbentuk terlihat sangat bening yang sebelumnya keruh. Hal tersebut terjadi karena fungsi norid pada percobaan ini adalah sebagai absorber yaitu menyerap warna sehingga warna larutan yang diberi norid dapat menjadi lebih jernih, sedangakan penggunaan air mendidih dalam proses ini sama seperti percobaan pertama yaitu untuk mempercepat terjadinya suatu reaksi (semakin tinggi suhu maka reaksi berlangsung semakin cepat).
Pada percobaan kelima yaitu lemak (reaksi penyabunan dan pembuatan sabun) ini dilakukan empat tahap percobaan. Percobaan pertama dilakukan pada reaksi penyabunan ini adalah menentukan apakah larutan sabun itu bersifat asam atau basa dan setelah diuji menggunakan kertas lakmus, warna kertas lakmus yang semula merah berubah menjadi warna biru. Hal ini menunjukan bawa larutan sabun bersifat basa. Pada tahap kedua dilakukan pembuatan sabun dengan mencampurkan NaOH 40%, minyak kelapa, dengan alkohol 96% atau disebut juga dengan etil alkohol. Minyak kelapa dan senyawa alkil (basa) yang dalam hal ini adalah NaOH 40% merupakan komponen utama dalam pembuatan sabun. NaOH merupakan senyawa alkil yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam kdidalam pembuatan sabun ini. Penggunaan etil alkohol dalam pembuatan sabun berfungsi sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dlam air dan lemak. Pada proses selanjutnya dilakukan proses pemanasan sehingga memadat/menggumpal, dan baunya agak menyengat. Hal ini terjadi karena minyak, etanol, dan NaOH mengalami reaksi sofanifikasi (reaksi penyabuna). Setelah ditambahkan 40 ml NaCl jenuh, perubahan yang terjadi adalah adanya gumpalan-gumpalan yang mearut dan menjadi busa. Penambahan NaCl ini berguna untuk memisahkan sabun dan gliserolnya sehingga akanmembentuk larutan yang berupa larutan koloid. Memisahnya sabun dari gliserolnya ini mmenyebabkan filtrasi (hasil saringanya) menjadi bening. Penambahan air pada akhir proses pemanasan berperan sebagai katalis atau sebagi pelarut. Pada ahap selanjutnya setengah dari sabun yang dihasilkan dilarutkan kedalam 100 ml aquades dan setelah pencampuran 5 ml CaCl2 dengan 10 ml larutan sabun tersebut. Kemudian dikocok, terlihat busanya semakin lama semakinan menghilang dan larutan berwarna putih susu. Hal tersebut terjadi karena fungsi larutan CaCl2 ini adalah untuk mengurangi basa dan pembentukan endapan. Pada tahap terakhir dari percobaan kelima ini dilakukan tiga kali percobaan pada gelas kimia pertama dicampurkn tetes larutan detergen, 10 ml air suling dengan larutan CaCl2. Larutan sabun mengendap dibawah tabung reaksi namun jumlahnya sedikit. Kemudian pada gelas kimia selanjutnya ditambahkan 3 tetes larutan detergen dengan 10 ml air kran tampak warna larutan agak keruh karena larutan detergen bereaksi dengan air kran. Hal ini terjadi karena didalam air kran terdapat zat-zat lain yang bercampur dalam air.
Pada percobaan terakhir dilakukan percobaan mengenai pengujian protein yang dalam hal ini menggunakan cairan putih telur yang dilarutkan dalam air yang kemudian dibagi menjadi enam tabung reaksi. Pada tabung reaksi pertama campuran larutan telur tersebut dicsmpur dengan 1 ml CuSO4 dan NaOH. Hal ini digunakan untuk mengetahui adaq atau tidaknya ikatan peptida dalam suatu senyawa uji biuret dapat dipakai untuk menunjukan adanya senyawa protein. Dari hasil yang didapat warna larutan menjadi ungu. Hal ini membuktikan bahwa cairan telur tersebut mengandung protein.
Pada tabung reaksi kedua dilakukan uji dengan menambhakan HNO3 pekat kemudian dipanaskan lalu setelah dingin ditambahkan NaOH dan diperoleh hasil setelah dipanaskan warnanya kuning agak jernih. Hal itu membuktikan adanya senyawa protein melalui pengujian xantoprotein tersebut. Dan ini menunjukan adanya senyawa asam amino yang memiliki cincin benzena seprti tirosin.
Pada tabung reaksi yang ketiga dengan menambahkan HgCl2 1% yang bertujuan mengidentifikasi adanya senyawa protein yang memiliki gugus fenol seperti tiroksin, hal itu dapat diketahui apabila daam sampel terdapat endapan putih dan seteah dipanaskan akan berubah menjadi warna merah. Pada tabung reaksi keempat dilakukan pemanasan cairan telur dengan menambahkan NaOH dan terlihat warnanya menjadi kuning dan terdapat endapan dan dites dengan menggunakan kertas lakmus, warna kertas lakmus berubah menjadi warna biru akibat penguapan NaOH (bersifat basa).
Pada tabung reaksi kelima dilakukan uji belerang, yaitu penambahan Pb asetat dilanjutkan dengan menambahkan NaOH. Belerang ini digunakan untuk menguji adanya senyawa protein karena dapat menunjukan asam amino yang memiliki gugus belerang maka warna larutan atau endapan akan berwarna hitam. Kebanyakan protein hanya berfungsi aktif biologis pada daerah pH dan suhu yang terbatas. Jika pH dan suhu berubah melewati batas-batas tersebut, protein akan mengalami denaturasi.

KESIMPULAN

Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya antara larutan (bersifat homogen dan stabil).
Larutan koloid dapat dibuat dengan dua cara yaitu kondensasi dan dispersi.
Hidrolisis merupakan reaksi suatu zat dengan air.
Dispersi merupakan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus atau lebih kecil yang dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi dan sebagainya.
Emulsi adalah sistem heterogen yang terdiri dari dua fase cair yang tidak bercampur, yaitu fase internal dan fase eksternal.
Adsorpsi adalah proses penyerapan zat/partikel/molekul pada permukaan dari zat tersebut, sehingga koloid akan memiliki muatan listrik.
Reaksi penyabunan merupakan reaksi dari minyak yang dilakukan dengan meraksikan suatu alkali (NaOH atau KOH) dengan minyak, yang biasa disebut reaksi solfonifikasi atau penyabunan.
Uji protein dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain uji biuret, xantoprotein, millon dan uji belerang.
Protein mengalami denaturasi setelah dipanaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. 2001. Kimia Dasar II. Bandung : ITB.
Ahmad, Hiskia.2001. Kimia Larutan. Bandung: CitraAditia Bakti.
Amri, Amun, Supranto, fahrurozi M. 2004. Kesetimbangan Adsorpsi Optinal Campuran Biner Cd (II) dan Cr (III) dengan Zeollit Alam Terimperegnasi 2-merkaptobenzotiazol. Pekanbaru, Yogyakarta. Universitas Riau, Universitas Gajah Mada: Lab.Pemisahan dan pemurnian, Lab Teknologi Kimia Umum, Teknologi Operasi Teknik Kimia
Anonim. 2012. Asam-Lemak. Diunduh di http://id.wikipedia.org/wiki. pada tanggal 02 Mei Tahun 2102, pukul 17.15 WITA di mataram.
Anonim. 2010. Asidimetri. Diunduh di http://www.scirbd.com/doc/70246435. Pada hari senin, tanggal 26 Maret Tahun 2102, pukul 14.130 WITA . di mataram.
Anonim. 2010. Asidimetri.-alkalidimetri Diunduh di http://tinz08.wordpress.com. Pada hari senin, tanggal 26 Maret Tahun 2102, pukul 14.130 WITA . di mataram.
Anonim. 2012. Konsep Dasar Kinetika Kimia. Diunduh di http://www. Artikelkimia.info.Diakses pada hari selasa, tanggal 24 April Tahun 2102, jam 19.50 di Mataram.
Anonim. 2012. Pembuatan Larutan. Diakses di http://id.wikipedia.org/wiki. pada tanggal 09 Mei Tahun 2102, pukul 21.30 WITA di mataram.
Anonim. 2012. Redoks. Diunduh di http://id.wikipedia.org/wiki/redoks. pada hari rabu tanggal 18 April Tahun 2102, di mataram.
.Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta: gramedia
Bresnick, Stephen. 2002. Kimia Umum. Jakarta : Hipokrates.
Girindra, A. 1986. Biokimia I. Jakarta: Gramedia.
Goldbery, David. 2004. Kimia Untuk Pemuda. Jakarta : Erlangga..

Partana.2003. Kimia Dasar II. Yogyakarta: UNY Press.
Purba, Michael.2007. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Rahayu, Nurhayanti. 2009. Rangkuman Kimia. Jakarta: Gagas Media.
Sastrohamdjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM Press.
Snyder, Sastrohamdjojo. 2005. Dasar-dasar Kimia Organik Non Logam. Jakarta: Aksara Baru
Sugiarto.2001. Kimia. Surabaya: PT Tuntas Buta Aksara.
Syukri. 2000. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung : ITB.
Timberlake, Karen C. 2004. Kimia Umum. New jersey: Prentice hall
Widjajanti, Prodjosantoso, Ikhsan. 2005. Efek pH Terhadap Kemampuan Adsorpsi Kitosan Dengan Logam. Karangmalang: Yogyakarta.

About these ads

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s